
UIN SUTHA Jambi Kembali Mengadakan International Professional Development bersama Prof. Farha Abbasi dari Michigan State University
HUMAS UIN SUTHA – UIN SUTHA Jambi kembali mengadakan International Professional Development Series ke 4. Topik yang diangkat kali ini adalah tentang Mental Health (Kesehatan Mental). Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Isabella Tirtowalujo, wakil Direktur Asian Studies Center, Michigan State University. Prof. Farha Abassi pakar Mental Health Amerika Serikat yang juga Direktur Muslim Studies Consortium serta dosen di Michigan State University menjadi pembicara pada serie ke 4 ini.
Kegiatan webinar dibuka langsung oleh Rektor UIN SUTHA Jambi, Prof. Dr. H. Su’adi, MA., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Su’adi menyambut baik kembalinya kegiatan ini setelah sempat terhenti karena persapan awal semester pada bulan Januari dan Februari. “Topik-topik seperti Mental Health, Environmental Health, Science, dahulu sangat jarang menjadi topik pembicaaraan di kampus kita. Namun saat ini dengan platform Transintegrasi ilmu, kita sudah harus membahas topik-topik seperti science, social science, dan topik-topik lainnya yang menyangkut hajat hidup manusia.” Ungkap Prof. Suadi.
Lebih lanjut, Prof. Su’adi mengharapkan agar partnership dengan MSU merambah pada kerjasama yang lebih luas, seperti membuka peluang untuk mengundang dosen-dosen MSU untuk menjadi dosen tamu di UIN Jambi pada dua atau tiga mata kuliah. UIN Jambi sendiri telah memulai menjadi dosen tamu pada mata kuliah GSAH (Global Studies in the Arts and Humanities- kelas pascasarjana, MSU). Untuk rencana ini, Prof. Su’aidi telah membuka diskusi dengan Bapak Dirjen Pendidikan Islam, Kementrian Agama RI.
Usai dibuka secara resmi, Prof. Farha Abbasi langsung membawakan materi yang berjudul “Being in faith-Coping with the Stress of Covid 19 pandemic and beyond” (Berada dalam iman-Mengatasi Stres pandemi Covid 19 dan kasus lainnya).

Prof.Farha mempersentasikan tentang “Being in faith-Coping with the Stress of Covid 19 pandemic and beyond”
Dalam paparannya, Prof. Farha Abbasi mengungkapkan bahwa saat ini umat Islam hampir di seluruh dunia mengalami tekanan demi tekanan: Di India misalnya, wanitia berhijab dilecehkan, di Amerika terjadi banyak isu-isu Islamophobia, di Timur Tengah dan Afirka peperangan dan kemiskinan melanda umat Islam, dan stereotype di negara-negara lain bahwa Muslim digambarkan dengan kekerasan, jilbab dianggap sebagai paksaan atau penekanan pada wanita, pemuda Muslim digambarkan sebagai ancaman masa depan, dan lain sebagainya. Belum lagi media yang terus menggambarkan Muslim secara negatif. Ditambah lagi dengan Pandemi Covid-19 yang kemudian memperparah situasi tersebut.
Hal-hal inilah yang kemudian menjadikan banyak Muslim diberbagai negara, terutama di Amerika Serikat mengalami depresi. Oleh karena itu, sangat penting untuk membahas Mental Health untuk kemudian membantu memulihkan kondisi Kesehatan Mental akibat Covid 19 dan kondisi dan tantangan sosial politik yang kurang berpihak pada umat Islam.
Permasalahannya kemudian adalah bahwa selama Covid-19, Masjid banyak ditutup, ibadah yang selama ini biasa dilakukan di Musola atau di Masjid, dalam dua tahun terakhir harus diadakan di rumah. Kondisi ini tentu memperparah kondisi mental umat Islam.
Prof. Farha kemudian mengutip surat Al-Baqarah: 155 “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Kemudian beliau juga mengutip Ayat Quran Al-Baqarah: 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.”
Dua ayat inilah yang kemudian menjadi dasar untuk Umat Muslim agar membentengi diri dari penyakit kesehatan mental. Secara umum ada tiga tips agar kita dapat terhindar dari permasalahan kesehatan mental:
(1) Wellness– Selalu menjaga diri (yoga, solat) dan selalu bersyukur;
(2) Welfare– berbagi waktu, bakat, dan sedekah;
(3) Being in community– berada di tengah-tengah masyarakat atau tidak mengisolasi diri (meskipun berada di rumah namun tetap menjaga silaturahmi melalui sosial media).

Prof. Farha mengutip hadis nabi yang artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”
Jangan pernah merasa rendah jika kita mengalami depresi. Bahkan Nabi sekalipun pernah mengalami depresi, orang soleh pun mengalami depresi, orang sukses juga mengalami depresi. Semua orang mempunyai potensi untuk mengalami permasalahan kesehatan mental. Intinya ketika kita meresa stress kita harus melakukan refleksi, melakukan ibadah, istirahat, menghibur diri. Jika sudah melakukan treatment terhadap diri namun masih merasa depresi, maka kita harus memerikasakan ke psikiater. Karena depresi dapat diobati dengan treatment yang tepat dari para ahli. Intinya jangan menyendiri ketika mengalami depresi.
Acara lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada lima pertanyaan yang disampaikan oleh audiens yang tentunya direspon dengan baik oleh Prof. Farha Abbasi.
Dr. Isabella Tirtowalujo sebagai moderator mengharapkan agar kerjasama dengan Department of Psychiatry MSU dapat berlanjut dengan scope yang lebih luas, misalnya dengan mengadakan pelatihan kepada tokoh-tokoh Islam di Jambi dan Indonesia.
Semoga kerjasama dengan Michigan State University, salah satu kampus terbesar di Amerika Serikat dapat terus terjalin sehingga UIN STS Jambi dapat berperan aktif dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dunia.

