
Rektor UIN STS Jambi Menjadi Dosen Tamu di Michigan State University, Amerika Serikat
Rektor UIN STS Jambi Menjadi Dosen Tamu di Michigan State University, Amerika Serikat
Sebagai bentuk kerjasama dengan salah satu kampus terbaik di Amerika, Michigan State University (MSU) dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. Su’aidi, MA., Ph.D mendapat undangan spesial untuk menjadi dosen tamu pada kelas GSAH (Global Studies in the Arts and Humanities- kelas pascasarjana).
Kegiatan ini dilaksanakan secara Hybrid, di mana mahasiswa di Amerika mengikuti kelas acara offline dari ruang South Kedzie, sementara peserta umum dapat mengikuti dengan Zoom, Senin (08/11/2021).
Prof. Hassan Salah, dosen GSAH, membuka kelas dengan memperkenalkan Prof. Su’aidi dan topik yang diangkat: Culture of Nationalism in a Global Context: The Case of Indonesia.
Prof. Su’aidi memulai presentasinya dengan memperkenalkan Indonesia. Negara yang sangat beragam dengan suku, etnis, bahasa, dan budaya. Dilanjutkan tentang sejarah nasionalisme di Indonesia dan kemudian menghubungkan nasionalisme dan globalisasi.
Ia berpendapat bahwa Indonesia masih mempunyai banyak tantangan globalisasi. Karena di satu sisi Indonesia ingin bersaing secara global, namun di sisi lain Indonesia masih dihantui dengan isu perpecahan dan isu pergantian idelogi negara. Tentunya, jika ingin melangkah maju maka Indonesia harus terlebih dahulu menyelesaikan isu nasionalisme agar dapat membentengi diri dari efek negatif globalisasi.
Peserta Antusias Dengar Presentasi Rektor UIN STS Jambi
Setelah Prof. Su’aidi memaparkan presentasinya, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Prof. Salah Hassan langsung mengajukan pertanyaan “Indonesia begitu beragam, etnis, bahasa, suku, lalu apa yang dapat menjadikan Indonesia bersatu dengan baik, adakah perekat yang dapat membuat keberagaman itu lengket dengan erat?”tanyanya melalui aplikasi zoom.
Prof. Su’aidi menjawab bahwa Indonesia memiliki bahasa nasional. Ini menjadi salah satu cara dapat menyatukan bangsa Indonesia. Jadi, meskipun Indonesia berpulau-pulau, dan memiliki ratusan bahasa yang berbeda, tetapi dengan bahasa nasional yang dimiliki, “Kami dapat bersatu dengan harmoni, karena kami dapat berkomunikasi dengan baik,”jelasnya.
Rektor melanjutkan, perekat kedua adalah PANCASILA. Meskipun ada beberapa oknum/kelompok yang ingin mengubah ideologi, namun semangat PANCASILA selalu dapat membentengi serangan-serangan oknum yang ingin memecah belah bangsa. Selain itu dua organisasai besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama selalu menjadi kekuatan besar yang dapat membentengi Indonesia dari ancaman perpecahan Bangsa.
Prof. Salah lalu membacakan pertanyaan dari peserta yang hadir di kelas. “Apakah globalisasi memberikan efek bagi persatuan Indonesia?”
Rektor UIN Jambi yang juga lulusan kampus di Kanada dan Australia menjawab “Benar, ancaman dari luar selalu ada, ideologi dan falsafah luar akan selalu ada untuk setiap negara. Namun sekali lagi, dua organisasi besar Muhammadiyah dan NU sangat mempunyai peran besar dalam memberikan kampanye positif untuk membentengi nilai-nilai luhur kebangsaan Indonesia,”jawabnya.
Prof. Salah Hassan kembali membacakan pertanyaan dari peserta yang ikut secara offline. Peserta menanyakan bagaimana pendapat Prof. Su’aidi tentang kerjasama yang terjadi saat ini antara MSU dan UIN Jambi. “Apakah hal tersebut karena adanya kemudahan akses akibat globalisasi”.
Prof. Su’aidi memberi jawaban, “ya benar, untuk hal ini kita melihatnya sangat positif. Globalisasi membawa atmosfir positif bagi setiap negara, juga mempengaruhi perkembangan teknologi dan kemajuan bangsa,”jelasnya.
Globalisasai membawa banyak efek positif, tetapi, bagi sebagian oknum, mereka memanfaatkan isu globalisasi untuk menggembosi persatuan dan kesatuan.
Pertanyaan terakhir datang dari Dr. Masiyan Wakil Dekan 1 Ushuluddin bertanya pendapat Pak Rektor tentang referendum yang terjadi di Quebec, Canada dengan Referendum di Timur Timur.
“Referendum di Quebec dan Timur-timur konteksnya berbeda. Di Timur-Timur pengaruh Australia sangat kuat saat itu. Sehingga ada intervensi Australia. Sedangkan Quebec relatif tidak mendapatkan intervensi dari negara lain,”tutup Prof. Su’aidi .
Di akhir, Prof. Salah berpendapat bahwa beberapa negara salah menafsirkan tantangan globalisasi. Bagaimana saat ini ada beberapa negara yang mempunyai ide gila dengan dalih memproteksi negaranya dari pengaruh asing, misalnya Amerika ingin membangun tembok pembatas untuk membatasi Meksiko; Israel membangun tembok pembatas dengan Palestina; dan Arab ingin membangun tembok untuk membatasi Iran.
Sebagai penutup, Prof. Salah berharap agar baik dosen MSU dan UIN Jambi dapat bertemu secara tatap muka. Senada dengan Prof. Salah, Prof. Su’aidi berharap agar COVID-19 segera berlalu, sehingga kolaborasi antara MSU dan UIN Jambi dapat lebih kokoh dan bersinergi ke arah yang lebih maju.

